13 Oktober 2026

By NINDYA SHOPA ANGRIA, S.Kom., M.Si.

15 kali dilihat

Permainan Galah Meriahkan RSBG 2026, Hidupkan Tradisi dan Kebersamaan Anak Nagari

Solok, Permainan tradisional Galah atau Cakbur menjadi salah satu kegiatan yang mewarnai hari keempat Rang Solok Baralek Gadang (RSBG) 2026 di Kota Solok, Selasa (13/10/2026). Selain menghadirkan suasana kompetisi, permainan anak nagari ini menjadi ruang untuk mengenalkan kembali tradisi lokal sekaligus mempererat kebersamaan antarpeserta.

Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Merdeka tersebut diikuti peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SMP hingga SMA/SMK, serta perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Solok. Keterlibatan berbagai unsur ini menambah semarak perhelatan budaya yang mengangkat tradisi dan identitas masyarakat Minangkabau.

Dalam pertandingan tersebut, tim Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Solok berhadapan dengan tim Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida). Masing-masing tim menurunkan lima pemain inti yang mengandalkan strategi, kecepatan, ketangkasan, dan kekompakan untuk menghadapi lawan.

Nuansa budaya semakin terasa melalui ketentuan penggunaan pakaian tradisional khas anak nagari Kota Solok. Para peserta mengenakan Baju Gunting Cino berwarna hitam, celana galembong, kain sarung sisamping, serta deta khas Solok. Pakaian tersebut memperkuat identitas lokal sekaligus menghadirkan suasana tradisi dalam rangkaian RSBG 2026.

Pertandingan berlangsung dengan penuh semangat. Tim Diskominfo berupaya memberikan perlawanan terbaik, meskipun pada akhirnya harus mengakui keunggulan tim Bapperida. Hasil pertandingan tidak mengurangi antusiasme peserta maupun dukungan dari rekan-rekan yang menyaksikan jalannya kompetisi.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Solok, Nurzal Gustim, saat memberikan keterangan di Lapangan Merdeka, Selasa (13/10/2026), mengatakan bahwa keterlibatan dalam permainan anak nagari merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus penguatan kebersamaan di lingkungan pemerintah daerah.

“Bagi kami, yang terpenting bukan hanya menang atau kalah, tetapi bagaimana ikut memeriahkan Rang Solok Baralek Gadang, menjaga kekompakan, dan melestarikan permainan tradisional yang menjadi bagian dari budaya anak nagari. Semangat dan kebersamaan yang ditunjukkan para pemain patut diapresiasi,” ujarnya.

Menurutnya, permainan tradisional seperti Galah atau Cakbur mengandung nilai-nilai positif, antara lain kerja sama, kedisiplinan, penyusunan strategi, dan sportivitas. Nilai-nilai tersebut tidak hanya terlihat dalam pertandingan, tetapi juga relevan dalam kehidupan bermasyarakat dan pelaksanaan tugas sehari-hari.

RSBG 2026 yang mengusung tema “Sawah Dijago, Budaya Dipusako” menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi lokal dan memperkenalkannya kepada generasi muda. Melalui keterlibatan pelajar dan aparatur pemerintah daerah, permainan anak nagari diharapkan tetap dikenal, dimainkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kehadiran permainan tradisional dalam rangkaian RSBG menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui partisipasi langsung masyarakat, bukan hanya melalui pertunjukan atau seremoni. Semangat kebersamaan yang tumbuh dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya Minangkabau sekaligus memperkuat identitas Kota Solok.

Lapor Kendala Jaringan dan Aplikasi Pemko Solok